![]() |
BATU BARA | BADAR.CO.ID – Suara tegas kembali datang dari kalangan organisasi kemahasiswaan di Kabupaten Batu Bara. Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Batu Bara secara resmi menyampaikan desakan agar Kapolres Batu Bara dicopot dari jabatannya. Langkah ini diambil sebagai bentuk kekecewaan yang mendalam terhadap kinerja pimpinan kepolisian yang dinilai belum mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara optimal, khususnya dalam dua hal utama yang menjadi perhatian publik: penanganan kasus narkoba yang masih merajalela, serta minimnya komunikasi dan interaksi yang dibangun dengan kalangan mahasiswa dan pemuda di wilayah tersebut.
Desakan ini bukanlah hal yang disampaikan secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari pengamatan, evaluasi, serta keprihatinan yang mendalam terhadap kondisi yang terjadi di tengah masyarakat. Bagi PC IMM Batu Bara, kepemimpinan yang ada saat ini dianggap belum mampu menjawab tantangan yang dihadapi, bahkan cenderung menimbulkan kesenjangan antara aparat penegak hukum dengan elemen masyarakat, terutama generasi muda yang merupakan aset terpenting masa depan daerah.
Penanganan Narkoba Dinilai Lamban dan Belum Serius
Salah satu alasan utama yang menjadi dasar desakan ini adalah lemahnya penanganan masalah narkoba yang selama ini menjadi persoalan serius di Kabupaten Batu Bara. Menurut pengamatan yang dilakukan, peredaran dan penyalahgunaan narkotika di daerah ini masih sangat marak, bahkan dinilai semakin meluas hingga menyentuh lingkungan pendidikan dan kalangan pemuda. Padahal, masalah ini telah menjadi perhatian publik sejak lama dan seharusnya menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan dan langkah operasional yang disusun oleh kepolisian.
Namun kenyataannya, hingga saat ini belum terlihat adanya langkah-langkah nyata, terstruktur, dan berkelanjutan yang mampu memutus mata rantai peredaran barang haram tersebut. Penindakan yang dilakukan dinilai hanya bersifat sesaat, permukaan, dan seringkali hanya menyasar pada pelaku tingkat bawah saja, sementara jaringan utama serta para bandar yang menjadi otak peredaran masih beroperasi dengan bebas. Kondisi ini, menurut PC IMM Batu Bara, menjadi bukti nyata bahwa penegakan hukum di bidang ini masih sangat lemah dan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Ketua PC IMM Batu Bara, Abdillah, menegaskan bahwa masalah narkoba bukanlah hal baru yang muncul belakangan ini. Persoalan ini telah ada sejak lama, namun upaya penanganannya dinilai berjalan sangat lamban dan tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Padahal, dampak yang ditimbulkan dari peredaran narkoba ini sangat besar dan berbahaya, karena secara langsung akan merusak kualitas generasi muda yang seharusnya menjadi harapan dan penerus kemajuan daerah ini.
“Masalah narkoba di Batu Bara bukanlah persoalan yang baru muncul kemarin atau hari ini. Sudah bertahun-tahun hal ini menjadi perhatian kita semua, namun sampai saat ini belum terlihat adanya langkah-langkah konkret yang benar-benar memberikan hasil nyata. Upaya yang dilakukan terasa lamban, kurang terencana, dan belum ditangani dengan keseriusan yang seharusnya. Ini menjadi perhatian serius kami, karena jika dibiarkan terus berlanjut, masa depan generasi muda kita yang menjadi taruhannya. Bagaimana mungkin kita bisa membangun daerah yang maju jika generasi penerusnya rusak akibat pengaruh barang haram ini?” tegas Abdillah dalam pernyataan resminya. Senin, 27 April 2026.
Lebih lanjut ia menyampaikan, bahwa kepolisian sebagai garda terdepan penegakan hukum memiliki tugas dan tanggung jawab utama untuk melindungi masyarakat dari berbagai ancaman keamanan dan ketertiban, termasuk bahaya narkoba. Ketika tugas utama ini tidak dapat dilaksanakan dengan baik, maka wajar jika timbul pertanyaan mengenai kemampuan dan kinerja pimpinan yang memegang kendali di lembaga tersebut.
Kurangnya Komunikasi Memperlebar Jarak dengan Masyarakat
Selain persoalan penanganan narkoba, faktor lain yang menjadi dasar kritik dan desakan pencopotan ini adalah sikap Kapolres Batu Bara yang dinilai kurang komunikatif, tertutup, dan jarang membangun interaksi yang baik dengan berbagai elemen masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa dan pemuda. Bagi PC IMM, komunikasi dan dialog merupakan hal yang sangat penting dalam membangun hubungan yang harmonis, saling percaya, dan kerja sama yang baik antara aparat penegak hukum dengan masyarakat.
Selama ini, terasa adanya jarak yang cukup jauh antara pimpinan kepolisian dengan kalangan aktivis, mahasiswa, dan pemuda. Ruang untuk menyampaikan aspirasi, menyampaikan pendapat, maupun berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang terjadi di daerah ini dinilai sangat terbatas bahkan hampir tidak ada. Padahal, melalui komunikasi yang baik, aparat kepolisian dapat mengetahui secara langsung apa yang menjadi harapan, kekhawatiran, serta masukan dari masyarakat, yang nantinya dapat dijadikan dasar dalam menyusun kebijakan dan langkah kerja yang lebih tepat sasaran.
“Kami melihat selama ini belum ada upaya yang serius dari pimpinan kepolisian untuk membuka ruang dialog yang konstruktif. Aspirasi yang kami sampaikan seringkali tidak mendapatkan tanggapan yang memadai, bahkan seringkali terabaikan begitu saja. Padahal, kami sadar bahwa tugas kepolisian tidak hanya sebatas menegakkan hukum dan melakukan penindakan, tetapi juga harus mampu menjadi mitra strategis bagi masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta stabilitas sosial daerah ini,” jelas Abdillah.
Menurutnya, ketika komunikasi tidak terjalin dengan baik, maka akan timbul kesalahpahaman, ketidakpercayaan, bahkan persepsi negatif yang berkembang di tengah masyarakat. Kondisi ini justru akan menyulitkan kepolisian itu sendiri dalam melaksanakan tugasnya, karena dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat merupakan kunci utama keberhasilan setiap program yang dijalankan. Sikap tertutup dan kurangnya interaksi yang dibangun justru dinilai telah memperlebar jurang pemisah antara aparat penegak hukum dengan masyarakat sipil yang seharusnya berjalan beriringan.
Desakan Evaluasi dan Pencopotan Sebagai Langkah Perbaikan
Melihat berbagai persoalan dan kekurangan yang telah dipaparkan tersebut, PC IMM Batu Bara mengambil sikap tegas dengan mendesak pihak berwenang, terutama institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia, untuk segera melakukan evaluasi kinerja secara mendalam terhadap pimpinan Kepolisian Resor Batu Bara. Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan yang tepat demi kemajuan lembaga tersebut dan kepentingan masyarakat luas.
Bahkan, organisasi kemahasiswaan ini tidak segan-segan meminta agar dilakukan pencopotan dari jabatan sebagai langkah yang tegas dan nyata. Bagi mereka, pencopotan ini bukanlah bentuk serangan pribadi atau upaya untuk menjatuhkan seseorang, melainkan merupakan langkah yang dianggap perlu untuk menghadirkan sosok pemimpin yang memiliki kapasitas, komitmen, serta kemampuan yang dibutuhkan dalam memimpin institusi strategis tersebut.
PC IMM menginginkan sosok pemimpin kepolisian yang tidak hanya tegas dalam penegakan hukum, tetapi juga responsif terhadap berbagai permasalahan yang ada, mampu membangun komunikasi yang baik dengan seluruh lapisan masyarakat, serta memiliki visi dan strategi yang jelas dalam menyelesaikan berbagai persoalan daerah. Sosok pemimpin yang diharapkan adalah mereka yang benar-benar mengabdi, memahami kondisi daerah, dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan dan perlindungan terbaik bagi masyarakat.
“Kami menyadari bahwa memimpin sebuah lembaga kepolisian bukanlah hal yang mudah, penuh dengan tantangan dan tanggung jawab yang berat. Namun demikian, jabatan yang diemban tersebut harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan tugas dan fungsi yang telah diamanatkan. Ketika kinerjanya dirasa belum mampu memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat, maka wajar jika dilakukan perubahan. Pencopotan ini kami usulkan semata-mata untuk kepentingan bersama, agar ke depan hadir sosok yang lebih baik, lebih terbuka, dan lebih serius dalam menangani berbagai persoalan yang ada,” tambah Abdillah.
Kritik sebagai Wujud Kepedulian dan Harapan
Dalam penyampaiannya, PC IMM Batu Bara juga menegaskan bahwa segala kritik, masukan, dan desakan yang mereka sampaikan semata-mata dilandasi oleh rasa cinta, kepedulian, dan tanggung jawab sosial terhadap kemajuan Kabupaten Batu Bara. Sikap ini diambil bukan untuk menimbulkan kegaduhan atau menciptakan perselisihan, melainkan sebagai wujud partisipasi aktif dalam mengawasi kinerja lembaga publik yang memiliki peran sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Mereka berharap agar desakan ini dapat menjadi perhatian serius dan mendapatkan tanggapan yang baik dari pihak berwenang. Ke depannya, diharapkan terjadi perubahan yang signifikan, baik dari sisi kepemimpinan maupun sistem kerja di lingkungan Kepolisian Resor Batu Bara, sehingga mampu bekerja dengan lebih efektif, efisien, dan akuntabel.
“Kami berharap ke depan hadir sosok pemimpin kepolisian yang mampu membangun kepercayaan masyarakat kembali. Seseorang yang komunikatif, mau mendengar, serta benar-benar serius dan berkomitmen tinggi dalam membasmi peredaran narkoba serta menangani berbagai persoalan lainnya yang ada di daerah ini. Kami juga berharap hubungan antara aparat kepolisian dengan masyarakat, khususnya mahasiswa dan pemuda, dapat terjalin dengan baik, harmonis, dan saling mendukung satu sama lain,” harap Abdillah.
Dengan disampaikannya desakan ini, PC IMM Batu Bara juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut mengawasi kinerja lembaga kepolisian dan lembaga pemerintahan lainnya. Pengawasan dari masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan tindakan yang diambil benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat dan kemajuan daerah.
Akhirnya, diharapkan berbagai langkah yang diambil nantinya dapat menciptakan perubahan yang berarti, sehingga kepolisian di Kabupaten Batu Bara dapat kembali mendapatkan kepercayaan publik, mampu memberikan rasa aman dan keadilan bagi seluruh warga, serta menjadi lembaga yang andal dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

