BADAR.CO.ID

TRAGEDI PERLINTASAN KA TEBING TINGGI: 8 NYAWA TERGERUS, PERLINTASAN TANPA PALANG PINTU JADI TITIK KRITIS

TRAGEDI PERLINTASAN KA
TRAGEDI PERLINTASAN KA TEBING TINGGI: 8 NYAWA TERGERUS, PERLINTASAN TANPA PALANG PINTU JADI TITIK KRITIS.

Tebing Tinggi, Sumatera Utara – Sebuah kecelakaan tragis melanda Kota Tebing Tinggi pada hari Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 18.30 WIB, di perlintasan kereta api tanpa palang pintu yang terletak di Jalan Abdul Hamid, Kelurahan Tebing Tinggi, Kecamatan Padang Hilir. Sebuah minibus jenis Toyota Avanza yang mengangkut sembilan penumpang tertabrak oleh kereta api Sri Bilah Utama relasi Rantau Prapat–Medan, menyebabkan delapan orang meninggal dunia, sementara satu orang lainnya dalam kondisi kritis.

BENTURAN KUAT, MOBIL TERSERET 500 METER

Berdasarkan informasi dari petugas kepolisian yang menangani kejadian, minibus dengan nomor polisi BK 1657 ABP yang dikemudikan Abdul Kadir (41) sedang dalam perjalanan dari arah Sei Sigiling menuju Bagelen. Saat memasuki perlintasan kereta api, tanpa diduga kereta api Sri Bilah Utama KA U53 yang melaju dengan kecepatan operasional 60–90 km/jam tiba-tiba muncul dari arah Rantau Prapat.

"Kondisi benturan sangat keras, hingga menyebabkan mobil tersebut terseret sejauh kurang lebih 500 meter sebelum kereta api dapat berhenti total," ujar Kasat Lantas Polres Tebing Tinggi, AKP Lidya, S.Tr.K., S.I.K., M.H., saat memberikan keterangan di lokasi kejadian.

Beberapa warga sekitar yang menjadi saksi mata mengaku telah berusaha memberikan peringatan kepada pengemudi minibus. Seorang warga bernama Anto mengatakan, ia dan beberapa orang lain sempat membunyikan klakson dan berteriak agar mobil berhenti, namun tampaknya tidak terdengar atau tidak diperhatikan oleh pengemudi. "Kalau malam di sini gelap dan tidak ada palang perlintasan. Katanya tadi sempat di teriaki anak-anak supaya berhenti, tapi mobil tetap melintas hingga akhirnya ditabrak," ujarnya di depan Rumah Sakit Bhayangkara Tebing Tinggi.

EVAKUASI DRAMATIS, BEBERAPA KORBAN TERJEPIT

Setelah menerima laporan kejadian, jajaran Polres Tebing Tinggi yang dipimpin oleh Kasat Lantas AKP Lidya segera mendatangi lokasi bersama unit Gakkum, Tim Inafis, dan personel Polsek Padang Hilir. Proses evakuasi korban berlangsung secara dramatis mengingat sebagian korban terjepit di dalam badan minibus yang mengalami kerusakan parah dan membentuk bengkok tidak beraturan.

Personel kepolisian bekerja sama dengan sukarelawan PMI dan petugas kesehatan untuk mengevakuasi korban. Seluruh korban, baik yang meninggal maupun yang luka-luka, kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Tebing Tinggi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

"Dengan sigap, kami melakukan pertolongan pertama dan mengutamakan penyelamatan korban. Pengamanan lokasi juga dilakukan agar tidak menimbulkan risiko lanjutan," ujar Kasi Humas Polres Tebing Tinggi, AKP Mulyono.

ENAM KORBAN DIIDENTIFIKASI, DUA ANAK BELUM TERDATA

Berdasarkan data sementara dari Rumah Sakit Bhayangkara Tebing Tinggi, enam korban yang meninggal dunia telah diidentifikasi identitasnya, yaitu Hafiz (4 tahun), Asrah (80 tahun), Laila (48 tahun), Devi (41 tahun), Risna Wati, dan Rizal. Sedangkan dua korban lainnya merupakan anak-anak yang identitasnya masih dalam proses pendataan. Sementara itu, pengemudi Abdul Kadir ditemukan dalam kondisi kritis dan masih menjalani perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tersebut.

"Kami masih mendata nama-nama korban. Saat ini masih ada dua anak-anak yang belum terdata identitasnya," jelas Kanit Gakkum Polres Tebing Tinggi, IPDA Heru Wibowo.

Petugas Jasa Raharja Tebing Tinggi, Arianto, menyampaikan bahwa pihaknya belum sepenuhnya menerima data lengkap identitas para korban. "Dari delapan orang yang meninggal dunia, baru enam yang terindikasi identitasnya, sementara dua korban anak-anak masih belum diketahui," ucapnya.

KERETA API SRI BILAH UTAMA ALAMI KERUSAKAN, PENUMPANG KA SELAMAT

Kereta api Sri Bilah Utama yang terlibat dalam kecelakaan tersebut merupakan layanan kereta api antar kota yang telah beroperasi sejak 10 Agustus 1978, melayani relasi Medan–Rantau Prapat dengan waktu tempuh rata-rata 5-6 jam. Plt Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan bahwa lokomotif kereta api mengalami kerusakan sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan.

"Akibat kejadian ini, lokomotif KA Sri Bilah Utama mengalami gangguan dan harus dibantu dengan lokomotif penolong yang dikirim dari Stasiun Tebing Tinggi," ujar Anwar.

Namun, ia memastikan bahwa masinis, seluruh kru kereta, serta para penumpang KA Sri Bilah Utama dalam kondisi selamat dan tidak mengalami luka-luka. Setelah lokomotif penolong tiba, kereta api tersebut ditarik menuju Stasiun Tebing Tinggi untuk dilakukan perbaikan dan kemudian kembali berangkat menuju Medan pada pukul 19.56 WIB, mengalami kelambatan selama 84 menit dari jadwal semula.

"KAI Divre I Sumatera Utara menyampaikan permohonan maaf kepada para pelanggan KA Sri Bilah Utama atas keterlambatan perjalanan yang terjadi, sekaligus mengucapkan simpati dan duka cita kepada para korban," tambah Anwar.

PENYELIDIKAN MASIH BERLANJUT, PEMERINTAHAN DAERAH AKAN EVALUASI

Kepala Kepolisian Resor Kota Tebing Tinggi melalui Kasat Lantas AKP Lidya menyampaikan bahwa pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui penyebab pasti dari kecelakaan tersebut. Pemeriksaan terhadap kondisi jalur kereta api, kecepatan kereta pada saat kejadian, serta kondisi fisik pengemudi minibus sedang dilakukan secara menyeluruh.

"Kami juga akan melakukan koordinasi dengan pihak KAI untuk mengevaluasi kondisi perlintasan kereta api di wilayah Kota Tebing Tinggi, terutama yang tidak memiliki palang pintu," ujarnya.

Pemerintah daerah Kota Tebing Tinggi juga menyampaikan akan mengevaluasi kembali kondisi seluruh perlintasan kereta api di wilayahnya untuk mencegah terjadinya kejadian serupa di masa depan. "Kita tidak ingin tragedi seperti ini terulang kembali. Perlintasan kereta api tanpa palang pintu menjadi titik rawan yang perlu mendapatkan perhatian serius," ujar seorang pejabat pemerintah daerah yang tidak ingin disebutkan namanya.

Tragedi ini menjadi pengingat yang menyakitkan bagi seluruh masyarakat akan pentingnya kewaspadaan dan kehati-hatian saat melintasi perlintasan kereta api, terutama jenis perlintasan tanpa palang pintu yang tidak memiliki sistem sinyal atau pengatur lalu lintas otomatis. "Tidak ada waktu yang lebih berharga daripada nyawa manusia. Lebih baik kehilangan satu menit untuk berhenti dan memastikan aman, daripada kehilangan keselamatan," pungkas Anwar Yuli Prastyo dari KAI.

TRAGEDI PERLINTASAN KA TEBING TINGGI: 8 NYAWA TERGERUS, PERLINTASAN TANPA PALANG PINTU


SPONSOR
Lebih baru Lebih lama