![]() |
| JUMLAH 137 ORANG DENGAN HIV JALANI PENGOBATAN DI BATU BARA, RSUD JADI LOKASI KUNJUNGAN DAN TEMUAN KASUS BARU TERTINGGI. |
BATU BARA | BADAR.CO.ID – Upaya penanganan dan pengendalian penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Batu Bara terus menjadi fokus utama Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan. Berdasarkan data yang dihimpun hingga tanggal 27 April 2026, tercatat sebanyak 137 Orang Dengan HIV (ODHIV) yang rutin menjalani pengobatan antiretroviral atau ART di berbagai fasilitas kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Batu Bara. Angka ini menjadi perhatian sekaligus bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan serta upaya pencegahan agar penyebaran penyakit ini dapat dikendalikan secara maksimal.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Batu Bara, Budi Junarman Sinaga, menyampaikan data tersebut kepada wartawan saat memberikan keterangan pers pada hari Selasa, 28 April 2026. Menurutnya, data ini menggambarkan bahwa upaya pengobatan dan pendampingan bagi penderita telah berjalan, namun di sisi lain juga menunjukkan bahwa kasus HIV masih ada dan membutuhkan perhatian bersama dari berbagai pihak, baik pemerintah, tenaga kesehatan, maupun seluruh lapisan masyarakat.
“Kami mencatat hingga akhir bulan April ini, ada 137 orang yang secara rutin datang ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pengobatan antiretroviral. Pengobatan ini sangat penting untuk menekan perkembangan virus dalam tubuh, menjaga daya tahan tubuh penderita, serta mencegah penularan kepada orang lain. Kehadiran mereka untuk berobat secara teratur juga menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya pengobatan terus meningkat, meskipun masih ada beberapa tantangan yang harus kita hadapi,” ungkap Budi Junarman Sinaga.
RSUD Menjadi Lokasi Pelayanan dan Penemuan Kasus Tertinggi
Dari data yang disampaikan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Batu Bara menjadi fasilitas kesehatan dengan jumlah kunjungan ODHIV terbanyak jika dibandingkan dengan fasilitas kesehatan lainnya. Tercatat ada 57 orang yang rutin datang ke rumah sakit ini untuk mendapatkan layanan pengobatan dan pemantauan kesehatan secara berkala.
Selain menjadi pusat pelayanan utama, RSUD juga menjadi lokasi dengan penemuan kasus baru terbanyak selama periode pencatatan tersebut. Sebanyak 16 kasus baru ditemukan di rumah sakit ini dengan tingkat positivity rate atau tingkat keberhasilan penemuan kasus sebesar 8,9 persen. Angka ini menunjukkan bahwa RSUD sebagai fasilitas kesehatan rujukan memiliki peran yang sangat penting dalam mendeteksi kasus-kasus baru, mengingat banyak pasien dari berbagai wilayah yang berobat dan diperiksa di rumah sakit tersebut.
“Tingginya angka kunjungan dan penemuan kasus di RSUD adalah hal yang wajar, mengingat rumah sakit ini merupakan pusat rujukan bagi seluruh wilayah Kabupaten Batu Bara. Banyak pasien yang datang dengan keluhan kesehatan, kemudian melalui proses pemeriksaan lebih lanjut diketahui mengidap HIV. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa sistem pemeriksaan yang diterapkan di rumah sakit berjalan dengan baik dan mampu mendeteksi kasus sejak dini,” jelasnya.
Data Kunjungan dan Penemuan Kasus di Tingkat Puskesmas
Di tingkat layanan kesehatan dasar yang dikelola melalui Puskesmas, Puskesmas Indrapura tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kunjungan ODHIV tertinggi, yakni sebanyak 17 orang yang menjalani pengobatan secara rutin. Posisi kedua diikuti oleh Puskesmas Sei Suka dengan 16 kunjungan, kemudian disusul oleh Puskesmas Tanjung Tiram sebanyak 13 kunjungan, serta Puskesmas Lima Puluh dan Puskesmas Labuhan Ruku yang masing-masing mencatat 12 kunjungan dalam periode yang sama.
Sementara itu, untuk penemuan kasus baru, secara keseluruhan di Kabupaten Batu Bara tercatat ada 28 kasus baru yang ditemukan hingga bulan April 2026 dengan tingkat positivity rate secara keseluruhan mencapai 0,7 persen. Angka ini menunjukkan bahwa dari seluruh orang yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 0,7 persen di antaranya dinyatakan positif mengidap HIV.
Adapun rincian penemuan kasus baru di tingkat puskesmas adalah sebagai berikut: Puskesmas Sei Suka dan Puskesmas Indrapura masing-masing menemukan 3 kasus baru, Puskesmas Pematang Panjang dan Puskesmas Tanjung Tiram masing-masing 2 kasus baru, sedangkan Puskesmas Lima Puluh dan Puskesmas Labuhan Ruku masing-masing mencatat 1 kasus baru.
Menariknya, terdapat sejumlah wilayah yang selama periode pencatatan ini tidak menemukan adanya kasus baru HIV sama sekali. Wilayah tersebut meliputi Puskesmas Pagurawan, Puskesmas Lalang, Puskesmas Laut Tador, Puskesmas Simpang Dolok, Puskesmas Kedai Sianam, Puskesmas Petatal, Puskesmas Ujung Kubu, Puskesmas Sei Balai, dan Puskesmas Sei Bejangkar.
Ketiadaan kasus baru di wilayah-wilayah ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi untuk menjaga kesehatan dan mencegah penularan, keberhasilan upaya penyuluhan dan edukasi yang dilakukan, maupun juga bisa disebabkan oleh rendahnya jumlah masyarakat yang datang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara sukarela.
“Kami melihat data ini dari dua sisi. Di satu sisi, wilayah yang tidak menemukan kasus baru patut kita syukuri, namun di sisi lain kita juga harus memastikan apakah hal ini benar-benar karena tidak ada penularan atau justru karena kurangnya pemeriksaan yang dilakukan. Oleh karena itu, kami terus mengimbau masyarakat untuk tidak takut atau malu melakukan pemeriksaan, karena deteksi dini adalah kunci utama penanganan yang lebih baik,” tegas Budi.
Pentingnya Peningkatan Edukasi, Deteksi Dini, dan Kualitas Pelayanan
Berdasarkan data yang telah dihimpun tersebut, Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Batu Bara menekankan pentingnya tiga aspek utama yang harus terus ditingkatkan, yaitu edukasi kepada masyarakat, upaya deteksi dini, serta penguatan kualitas pelayanan kesehatan di seluruh tingkatan fasilitas kesehatan.
Pertama, terkait edukasi, pemerintah menyadari bahwa masih banyak masyarakat yang kurang memahami tentang cara penularan, gejala, hingga cara pencegahan penyakit HIV. Masih terdapat pandangan yang salah dan stigma negatif di masyarakat yang membuat penderita enggan untuk berobat atau bahkan menyembunyikan penyakitnya. Oleh karena itu, penyuluhan yang berkelanjutan, mudah dipahami, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat menjadi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan.
“Kita harus terus memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat bahwa HIV bukanlah kutukan, bukan juga penyakit yang hanya menyerang kelompok tertentu. Penyakit ini dapat menular melalui cara-cara tertentu dan dapat dikendalikan dengan pengobatan yang teratur. Stigma negatif yang masih ada di masyarakat justru menjadi penghambat penanganan yang baik, karena membuat penderita takut untuk berobat dan akhirnya kondisi kesehatannya semakin memburuk,” ujarnya.
Kedua, upaya deteksi dini harus terus diperluas. Pemerintah mendorong masyarakat yang berisiko maupun yang tidak berisiko untuk secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan HIV. Semakin cepat penyakit ini diketahui, maka semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan sehingga kualitas hidup penderita dapat terjaga dan risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan seminimal mungkin.
Ketiga, penguatan kualitas pelayanan kesehatan menjadi hal yang tidak kalah penting. Pemerintah daerah terus berupaya memastikan bahwa setiap fasilitas kesehatan memiliki tenaga kesehatan yang kompeten, peralatan yang memadai, serta ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan secara terus-menerus. Pelayanan juga harus dilakukan dengan sikap yang ramah, profesional, dan menjaga kerahasiaan data kesehatan pasien agar masyarakat merasa nyaman dan percaya untuk berobat.
“Kami memastikan bahwa layanan yang kami berikan bebas dari diskriminasi. Setiap orang yang datang untuk berobat berhak mendapatkan pelayanan yang sama baiknya, tanpa memandang latar belakang apapun. Kerahasiaan data kesehatan juga menjadi hal yang sangat kami jaga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tambahnya.
Harapan dan Langkah ke Depan
Budi Junarman Sinaga berharap dengan adanya data yang disampaikan ini, seluruh pihak dapat memiliki pemahaman yang sama tentang kondisi penanganan HIV di Kabupaten Batu Bara. Data ini juga diharapkan dapat menjadi acuan dalam menyusun kebijakan, program, dan kegiatan yang lebih tepat sasaran di masa mendatang.
Pemerintah daerah juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, hingga lembaga pendidikan untuk turut serta berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanganan HIV. Penanganan masalah ini tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah semata, tetapi membutuhkan kerja sama dan dukungan dari seluruh komponen bangsa.
“Kami berharap ke depan angka kasus baru dapat terus menurun, dan bagi mereka yang sudah terdiagnosa dapat terus berobat secara teratur sehingga kondisi kesehatannya tetap terjaga. Dengan upaya yang terus dilakukan secara bersama-sama, kita yakin bahwa penyebaran HIV di Kabupaten Batu Bara dapat kita kendalikan dan kita tekan seminimal mungkin,” pungkasnya.

