![]() |
| Berdasarkan Kriteria Neo MABIMS dan Peraturan Menteri Agama, Pemerintah Diharapkan Tetapkan 1 Syawal 1447 H pada Hari Sabtu, 21 Maret 2026. |
Badar.co.id - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) tengah dalam proses penetapan tanggal 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2026. Berdasarkan analisis terhadap kriteria Neo MABIMS dan ketentuan dalam Peraturan Menteri Agama, diperkirakan pemerintah akan menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H bertepatan dengan hari Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan resmi tersebut akan diumumkan pada hari ini, Kamis (19/3/2026) malam melalui konferensi pers setelah sidang Isbat yang digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama.
Sejarah dan Dasar Hukum Penetapan Hari Raya Idul Fitri
Sejak tahun 1946, pemerintah telah memiliki regulasi mengenai penetapan hari raya yang terkait dengan peribadatan sebagai hari libur melalui Penetapan Pemerintah Nomor 2/UM. Pada dekade 1950-an hingga tahun 1962, pertama kali diadakan sidang Isbat untuk menetapkan awal Ramadan dan Idul Fitri, yang kemudian dilembagakan melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 47 Tahun 1963. Pada tahun 1972, dibentuk Badan Hisab dan Rukyat (BHR) untuk menangani perhitungan dan pengamatan hilal secara lebih terstruktur.
Pada tahun 2022, pemerintah memperbarui kriteria penetapan awal bulan Hijriah dari kriteria Imkan Nur Rukyat MABIMS lama menjadi Neo MABIMS. Perubahan ini didasarkan pada pertimbangan ilmiah, dengan parameter tinggi bulan minimal 3° dan elongasi 6,4°, berbeda dengan kriteria lama yang memiliki parameter ketinggian hilal 2°, elongasi 3°, atau umur bulan 8 jam.
Analisis Kriteria Neo MABIMS untuk 1 Syawal 1447 H
Ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.26 WIB. Saat matahari terbenam di wilayah Indonesia pada hari tersebut, posisi bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0°53′58″ hingga 3°07′15″ dan elongasi 4°32′57″ hingga 6°06′39″.
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kondisi bulan belum memenuhi parameter kriteria Neo MABIMS, yaitu tinggi bulan minimal 3° dan elongasi minimal 6,4°. Oleh karena itu, berdasarkan ketentuan yang berlaku, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026. Hal ini juga sejalan dengan penetapan yang telah dilakukan oleh Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) yang menggunakan kriteria yang sama sejak tahun 2012, yang sebelumnya dikenal sebagai kriteria Hisab Imkan Rukyat Astronomis atau kriteria Lapan 2011.
Perbandingan dengan Penetapan Organisasi Islam Lain
Sebelum pemerintah mengumumkan penetapan resmi, beberapa organisasi Islam telah menetapkan tanggal 1 Syawal 1447 H secara mandiri. Misalnya, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal dan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). KHGT menggunakan parameter tinggi bulan >5 derajat dan elongasi bulan >8 derajat sebelum pukul 24.00 UTC pada hari ijtimak, yang pada kasus ini telah terpenuhi di beberapa wilayah di dunia.
Perbedaan penetapan ini merupakan wilayah ijtihad yang harus dihormati. Meskipun demikian, penting bagi seluruh umat Islam untuk tetap menjaga persatuan dan keharmonisan dalam menyambut hari raya yang penuh berkah ini.
Persiapan Menyambut Hari Raya Idul Fitri
Dengan adanya kemungkinan penetapan 1 Syawal 1447 H pada 21 Maret 2026, masyarakat diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan baik. Mulai dari persiapan keuangan untuk mudik dan kebutuhan hari raya, hingga memperkuat tali silaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Pemerintah juga telah melakukan berbagai langkah antisipatif untuk memastikan kelancaran perjalanan mudik dan kesiapan sarana prasarana selama hari raya.
Selain itu, momentum Idul Fitri juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri, memohon ampunan kepada Allah SWT, serta mempererat tali persaudaraan antar sesama manusia. Semoga dengan penetapan tanggal yang jelas, seluruh umat Islam di Indonesia dapat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 H dengan khidmat dan penuh berkah.
(Khang's)

