BADAR.CO.ID

Pesta Tapai Batu Bara 2026: Tradisi yang Bernafas, Panggilan untuk Menjaga Jiwa Kolektif

Pesta Tapai Batu Bara 2026
Pesta Tapai Batu Bara 2026: Tradisi yang Bernafas, Panggilan untuk Menjaga Jiwa Kolektif.

Batubara - acara Pesta Tapai Kabupaten Batu Bara tahun 2026 menghiasi kalender budaya mulai Sabtu, 17 Januari hingga Senin, 16 Februari 2026, dengan hati acara berlokasi di Desa Dahari Selebar Kecamatan Talawi. Malam pembukaan pada pukul 20.00 WIB tanggal 17 Januari menyuguhkan rangkaian momen yang sarat makna: persiapan matang oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disporabudpar) mengawali suasana, diikuti tari pesembahan dari Sanggar Tari yang menghidupkan gerakan-gerakan leluhur, doa yang mengikat rasa syukur bersama, sambutan dari Ketua Panitia Widaruna, SE Plt. Disporabudpar Kab. Batu Bara yang menguraikan makna balik perayaan, hingga pembacaan sejarah tradisi Pesta Tapai oleh M. Buyung Morna yang menyusuri jejak panjang budaya ini. Sambutan Ketua DPRD Kabupaten Batu Bara M. Syafii, S.H. kemudian menjadi pijakan untuk momen krusia, Bupati Batu Bara H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si memberikan kata sambutan yang sarat filosofi sekaligus secara resmi membuka Pesta Tapai Tahun 2026, menandai awal dari perayaan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mendidik.

Setelah pembukaan, hiburan berkualitas menghiasi setiap malam: Artis D'Academy asal Kabupaten Batu Bara menghipnotis penonton pada malam pertama, seniman lokal Batu Bara menunjukkan keahlian mereka pada tanggal 18-20 Januari, hingga pada 21 Januari digawangi penampilan Sanggar Tari dan Pencak Silat Desa Dahari Selebar yang menggabungkan keindahan seni dan kekuatan budaya lokal. Tanggal 22 Januari dijadwalkan sebagai jeda tanpa hiburan, memberi ruang bagi masyarakat untuk merenung dan menghayati esensi perayaan sebelum acara berlanjut.

Pesta tapai

Acara Pesta Tapai Kabupaten Batu Bara tahun 2026 menghiasi kalender budaya mulai Sabtu, 17 Januari hingga Senin, 16 Februari 2026, dengan hati acara berlokasi di Desa Dahari Selebar Kecamatan Talawi. 

Lebih dari Sebuah Undangan: Makna yang Tersembunyi di Balik Ajakan Bupati

Panggilan Bupati H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si kepada seluruh masyarakat—termasuk ribuan warga perantauan yang menyebar di pelosok tanah air bahkan mancanegara—untuk kembali dan memeriahkan Pesta Tapai, bukan sekadar undangan administratif. Ini adalah seruan untuk menyambung kembali benang kehilangan identitas, sebuah undangan untuk merenung: bagaimana sebuah daerah seharusnya memaknai warisan budayanya? Apakah hanya menjadi seremoni tahunan yang dilewati begitu saja, atau dirawat sebagai jiwa kolektif yang terus bernafas dan berkembang?

Pesta Tapai bukan lahir dari kesenangan semata. Sejak abad ke-18, tradisi ini tumbuh bersamaan dengan peradaban masyarakat Melayu pesisir Batu Bara, melilit erat dengan ritme kehidupan sosial—dimana tapai menjadi jembatan silaturahmi antar keluarga dan tetangga, ekonomi—dengan pedagang kecil menjajakan produk lokal sebagai bekal menjelang Ramadhan, dan spiritual—sebagai bentuk syukur atas hasil bumi yang melimpah. Di setiap butir tapai yang dibuat dengan tangan penuh cinta, terkandung nilai-nilai luhur: rasa syukur yang mendalam, solidaritas yang tak tergoyahkan, dan kearifan lokal yang telah mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika Bupati mengajak para perantau “pulang”, ia tidak hanya memanggil tubuh untuk datang ke Desa Dahari Selebar. Ia memanggil ingatan kolektif tentang aroma tapai yang menggoda di setiap sudut kampung, suara tawa keluarga saat berkumpul, dan rasa memiliki yang tak tergantikan terhadap tanah yang melahirkan mereka. Ini adalah panggilan untuk mengembalikan hak mereka sebagai bagian dari rantai budaya yang tidak boleh putus.

Ujian Abadi: Menjaga Makna di Tengah Arus Perubahan

Namun, di tengah kemajuan zaman dan tuntutan modernisasi, tradisi lokal menghadapi ujian yang tak kalah beratnya. Banyak warisan budaya yang perlahan kehilangan esensinya ketika dikemas dengan setengah hati—terjebak dalam jurang antara romantisme masa lalu yang ingin dijaga dan tuntutan popularitas masa kini yang mengharuskan adaptasi. Pesta Tapai tidak luput dari risiko ini: bisa jadi hanya menjadi ajang pameran yang penuh warna tapi kosong makna, atau pasar musiman yang hanya mengejar keuntungan materi tanpa menyentuh hati.

Oleh karena itu, komitmen yang disampaikan Bupati dalam pidato pembukaan menjadi titik balik yang krusial. Ajakan politik kultural yang ia bawakan bukanlah retorika semata, melainkan visi yang telah matang dan membutuhkan dukungan bersama. Konsistensi kebijakan yang mengutamakan perlindungan budaya, tata kelola yang transparan dan melibatkan masyarakat sebagai pemilik utama tradisi, serta keberpihakan nyata kepada mereka yang telah menjaga tradisi ini dari masa ke masa—semua itu menjadi pondasi tak tergantikan agar Pesta Tapai tetap hidup dengan sejati.

Ekonomi yang Berkelanjutan, Budaya yang Tak Hilang Ruh

Tak dapat dipungkiri, Pesta Tapai telah memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian lokal. Setiap tahunnya, UMKM dan pedagang rakyat merasakan lonjakan pendapatan menjelang Ramadhan, dengan permintaan tapai dan produk lokal lainnya meningkat pesat. Namun, manfaat ekonomi ini tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan perayaan. Pemerintah daerah harus memastikan bahwa geliat ekonomi yang menggairahkan tidak menggerus nilai-nilai adat yang menjadi jiwa Pesta Tapai.

Tradisi tidak boleh diubah menjadi sekadar komoditas yang kehilangan ruh. Tapai yang dijual harus tetap membawa cerita tentang proses pembuatannya yang penuh kesabaran, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, dan hubungan erat antara manusia dengan alam. Inilah mengapa peran Disporabudpar sebagai pelaksana kebijakan menjadi sangat krusial: menjadikan Pesta Tapai sebagai ruang pendidikan budaya bagi generasi muda yang semakin jauh dari akar budaya, sekaligus sebagai wahana integrasi sosial yang menghubungkan berbagai lapisan masyarakat, lintas wilayah, dan bahkan lintas generasi.

Rencana untuk mengintegrasikan Pesta Tapai dengan tradisi Mogang dan Mandi Belimau juga patut diapresiasi, asalkan langkah ini tetap berpijak pada substansi budaya, bukan hanya untuk menambah daftar acara atau menarik perhatian semata. Ketiga tradisi ini memiliki hubungan yang erat dalam kehidupan masyarakat Batu Bara, dan integrasinya bisa menjadi contoh bagaimana budaya lokal bisa tumbuh dan berkembang tanpa kehilangan identitas.

Menatap Masa Depan: Pesta Tapai sebagai Warisan yang Hidup

Langkah Bupati untuk membuka ruang partisipasi luas bagi perantau dan masyarakat seluruh Sumatera Utara adalah sinyal positif yang menunjukkan bahwa Pesta Tapai bukan milik satu kelompok saja, tetapi milik bersama seluruh bangsa. Optimisme kita terhadap masa depan tradisi ini harus diimbangi dengan tindakan konkret: perlindungan hukum yang jelas terhadap warisan budaya tak benda, dokumentasi yang serius dan terstruktur untuk mencatat setiap aspek Pesta Tapai mulai dari sejarah hingga proses pembuatan tapai, promosi yang bermartabat yang tidak mengurangi nilai budaya, serta arah kebijakan yang menjadikan Pesta Tapai sebagai bagian penting dari identitas Kabupaten Batu Bara di kancah nasional bahkan internasional.

Pada akhirnya, Pesta Tapai adalah cermin yang akan memantulkan sejauh mana masyarakat Batu Bara sungguh-sungguh menghormati masa lalunya, sekaligus bagaimana mereka menata masa depannya. Tradisi yang dirawat dengan kesadaran dan cinta akan tumbuh dengan kuat, menjadi pondasi bagi pembangunan daerah yang berkelanjutan dan penuh nilai. Dan di situlah terletak tanggung jawab bersama—negara sebagai pembina dan pelindung, serta masyarakat sebagai pelaku dan penjaga—untuk memastikan bahwa Pesta Tapai tidak hanya hidup di tahun 2026, tetapi akan terus bernafas dan memberi makna bagi generasi-generasi yang akan datang.

(Khang's)

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama