![]() |
| Sindrom Toga: Fenomena Sosial-Psikologis yang Menguji Integritas Keilmuan Lulusan Akademik. |
MEDAN, SUMATERA UTARA – Di tengah tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif dan dinamika masyarakat yang terus berkembang, muncul sebuah fenomena sosial-psikologis yang kerap menjadi perbincangan di lingkungan akademik dan dunia kerja Indonesia: Sindrom Toga. Istilah yang tidak bersifat medis ini digunakan secara informal untuk menggambarkan perubahan sikap seseorang setelah meraih gelar akademik, yang seringkali berdampak pada cara mereka berinteraksi dengan lingkungan dan menghadapi realitas di luar kampus.
Seperti yang diuraikan dalam catatan terkait fenomena ini oleh Prof. Muhammad Nur, pakar yang telah mendalami isu perilaku lulusan akademik, Sindrom Toga ditandai oleh munculnya rasa superioritas berlebihan pada individu yang baru lulus atau meraih gelar akademik. Mereka cenderung menganggap diri sudah “sampai” dan enggan untuk terus belajar dari orang lain di bidang yang sama atau bahkan bidang terkait.
“Gelar akademik seharusnya menjadi amanah keilmuan dan bekal untuk berkontribusi pada masyarakat, namun dalam banyak kasus, justru dijadikan sebagai identitas utama yang membatasi wawasan dan kemauan untuk berkembang,” ujar Prof. Muhammad Nur dalam paparan terkait fenomena ini.
Akar Penyebab Munculnya Sindrom Toga
Menurut Prof. Muhammad Nur, penyebab munculnya Sindrom Toga tidak dapat dipisahkan dari bagaimana gelar akademik dipandang dalam konteks sosial masyarakat Indonesia. Banyak kalangan menganggap gelar sebagai simbol status dan legitimasi sosial, bukan sebagai alat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat.
“Kita sering melihat budaya di mana gelar menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang secara sempit. Hal ini membuat sebagian lulusan menjadikan gelar sebagai ‘mahkota’ yang harus dipertahankan, bukan sebagai landasan untuk terus berkarya,” jelasnya.
Dampak dari pandangan tersebut juga terlihat pada cara lulusan berkomunikasi dan berinteraksi. Bahasa yang digunakan cenderung semakin akademik dan jauh dari realitas masyarakat, membuat jarak antara mereka dengan lingkungan sekitar semakin lebar. “Ilmu yang telah dipelajari tidak dijadikan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah atau berkontribusi pada kemajuan, melainkan hanya sebagai bukti prestise yang harus dijaga,” tambah Prof. Muhammad Nur.
Dampak pada Dunia Kerja dan Perkembangan Individu
Salah satu dampak paling nyata dari Sindrom Toga adalah sikap selektif berlebihan terhadap pekerjaan. Banyak lulusan yang terkena sindrom ini menganggap beberapa jenis pekerjaan sebagai “tidak selevel” dengan gelar yang mereka miliki, sehingga menutup peluang untuk mendapatkan pengalaman berharga dan berkembang di dunia kerja.
“Kita sering mendengar kasus lulusan sarjana yang enggan mengambil pekerjaan yang mereka anggap ‘rendah’ padahal di sana terdapat peluang besar untuk belajar dan berkembang. Hal ini turut berkontribusi pada masalah pengangguran atau ketidaksesuaian keterampilan lulusan dengan kebutuhan pasar kerja,” ungkap Prof. Muhammad Nur.
Selain itu, lulusan yang terkena Sindrom Toga cenderung melihat masukan dan kritik dari orang lain sebagai ancaman terhadap diri mereka. “Mereka menganggap bahwa belajar ulang atau menerima pandangan berbeda adalah bentuk kemunduran, padahal dalam dunia yang terus berkembang, kemampuan untuk beradaptasi dan terus belajar adalah kunci keberhasilan,” jelasnya. Menurutnya, sindrom ini memberikan rasa aman semu yang membuat individu terlena dan tidak sadar akan perkembangan terbaru di bidang mereka.
Menuju Paradigma Baru: Gelar Sebagai Amanah, Bukan Status
Untuk mengatasi fenomena Sindrom Toga, Prof. Muhammad Nur menegaskan bahwa diperlukan perubahan paradigma dari berbagai pihak. Institusi akademik perlu mengedukasi mahasiswa dan lulusannya bahwa gelar akademik adalah awal dari perjalanan keilmuan, bukan akhir dari proses belajar.
“Pembelajaran tidak hanya fokus pada transfer pengetahuan teoritis, melainkan juga pada pengembangan sikap profesional, kemampuan kolaboratif, dan kesadaran akan tanggung jawab sosial,” tegasnya.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengubah pandangan tentang gelar akademik. “Gelar seharusnya dilihat sebagai bukti bahwa seseorang telah memiliki dasar pengetahuan dan keterampilan tertentu, bukan sebagai jaminan kesempurnaan atau simbol kekuasaan. Dukungan dari lingkungan untuk mendorong lulusan untuk terus belajar dan berkontribusi akan membantu mengurangi dampak negatif dari Sindrom Toga,” jelas Prof. Muhammad Nur.
Dunia nyata di luar kampus bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, dan tuntutan akan inovasi serta adaptasi semakin tinggi. “Lulusan akademik yang mampu menjaga integritas keilmuan, tetap rendah hati, dan terbuka untuk pembelajaran sepanjang hayat akan lebih siap menghadapi tantangan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya.
Sumber: Riset dan Analisis Independen bersama Prof. Muhammad Nur.

