![]() |
| Mayor Jenderal (Purn.) A.E. Manihuruk: Jenderal dari Samosir yang Jadi Bapak NIP Indonesia. |
MEDAN, SUMATERA UTARA – Nama Arsenius Elias Manihuruk atau lebih dikenal sebagai A.E. Manihuruk tidak bisa dilepaskan dari sejarah pengembangan kepegawaian negara Indonesia. Lahir dari tanah Samosir pada 29 Februari 1920, tokoh ini kemudian dikenal luas sebagai "Bapak NIP" karena peranannya dalam merumuskan Nomor Induk Pegawai Negeri Sipil (NIP), salah satu pijakan penting dalam pengelolaan aparatur negara.
Perjalanan Karier dari Pejuang hingga Pengurus Kepegawaian
Sebelum terjun ke dunia kepegawaian, A.E. Manihuruk telah menunjukkan dedikasinya bagi negara melalui jalur militer. Pada masa pertempuran Agresi Militer Belanda tahun 1948, ia menjabat sebagai Kepala Staf Batalion III sektor II sub Teritorial VII Sumatera Utara, berkontribusi dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih.
Setelah kemerdekaan tercapai, ia melanjutkan karier dengan mengabdikan diri sebagai dosen di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Bandung pada tahun 1966. Kemudian pada tahun 1968, ia menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Kodam V/Jaya, memperdalam kemampuannya dalam bidang administrasi dan strategi.
Pada tanggal 16 Maret 1972 hingga 26 Oktober 1987, A.E. Manihuruk menjabat sebagai Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) ke-5 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Di posisi ini, ia menunjukkan keahliannya dalam merumuskan kebijakan kepegawaian yang berdampak luas. Selain itu, dari tahun 1988 hingga 1992, ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Politik Dewan Pertimbangan Agung (DPA), berkontribusi dalam pemikiran strategis pembangunan negara.
Peran Sentral dalam Pembuatan NIP
Salah satu kontribusi terbesar A.E. Manihuruk adalah dalam pembuatan sistem NIP. Pada awalnya, NIP menggunakan format 9 digit dengan 2 digit pertama menunjukkan kode instansi pendaftaran pada tahun 1974 atau instansi pertama yang mengangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)/PNS, dan 7 digit berikutnya sebagai nomor urut. Namun, seiring perkembangan zaman, sistem ini mengalami kendala, seperti tidak fleksibel terhadap perpindahan instansi, perubahan struktur organisasi, dan terbatasnya kapasitas kode instansi yang hanya bisa menampung hingga 99 instansi.
Oleh karena itu, kemudian ditetapkan Peraturan Kepala BKN Nomor 22 Tahun 2007 dan Nomor 43 Tahun 2007 yang mengubah format NIP menjadi 18 digit, yang lebih komprehensif dan dapat mengakomodasi perkembangan kepegawaian negara.
Salah satu momen bersejarah dalam sejarah NIP adalah ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi pegawai negeri pertama yang memiliki NIP dengan nomor 010000001. Kartu Pegawai Negeri Sipil Republik Indonesia yang mencatat hal ini diterbitkan oleh BAKN dan ditandatangani langsung oleh A.E. Manihuruk sebagai Kepala BAKN saat itu. Selain NIP, ia juga merumuskan berbagai kebijakan penting lainnya seperti sistem pensiun dan disiplin bagi PNS, yang menjadi dasar bagi pembinaan aparatur negara yang profesional.
Kontribusi di Bidang Pendidikan dan Sosial
Tak hanya fokus pada kepegawaian negara, A.E. Manihuruk juga berkontribusi dalam dunia pendidikan. Pada tahun 1979, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Yayasan Universitas HKBP Nommensen (UHN) Sumatera Utara, berperan dalam mengembangkan pendidikan tinggi di daerah tersebut.
Selain itu, keluarga Manihuruk juga dikenal memiliki motto "saling mengasihi, membantu, mendoakan", yang terwujud dalam berbagai kegiatan sosial. Bahkan pada tahun 2025, keluarga tersebut masih aktif dalam memberikan bantuan kepada sesama yang mengalami kesulitan, seperti korban kebakaran di Jakarta Selatan.
Peninggalan yang Abadi
A.E. Manihuruk meninggal dunia pada tanggal 10 Januari 2003 di Jakarta dan dimakamkan pada tanggal 16 Januari 2003 di Tugu Jala Udean Ni Ompu Landit Simanihuruk (boru Sitohang) Rap Dohot Pinompar Na di Binangaborta, Lumban Suhi Suhi Toruan, Pangururan, Samosir, Sumatera Utara.
Untuk menghormati jasanya, sejumlah gedung diberi nama beliau, seperti gedung aula kantor regional BKN dan Gedung Mayjen (Purn.) A.E. Manihuruk di Universitas HKBP Nommensen Sumatera Utara. Selain itu, ia juga memiliki sejumlah karya tulis yang mencatat perjalanan perjuangan dan pembangunan negara, antara lain Madju terus pantang mundur-sampai "Malaysia" hantjur lebur! (1964), Perjuangan rakyat semesta Sumatera Utara (1979), Proses pembentukan Korps Pegawai Republik Indonesia (1979), Penataran tingkat nasional pemuka agama seluruh Indonesia (1979), dan 50 tahun pengabdian BAKN: uraian singkat perjalanan dan tumbuh kembangnya BAKN (1998).
Sumber Artikel: Wikipedia bahasa Indonesia - Arsenius Elias Manihuruk.

