![]() |
| DORONG PEMBANGUNAN BUDAYA MELAYU, PB MABMI SARANKAN SEJARAH BATU BARA DAN AKSARA JAWI MASUK MULOK. |
Batu Bara – Ketua Umum Pengurus Besar Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (PB MABMI) Prof. Dr. H. OK Saidin SH, M.Hum gelar Datuk Seri Amar Cendekia mengajukan usulan penting terkait pelestarian identitas budaya Melayu di Kabupaten Batu Bara. Dalam kata sambutannya pada acara penobatan Wan Muhammad Nur SE gelar Datuk Tanah Datar sebagai Pemangku Adat Kedatukan Tanah Datar di Hotel Grand Malaka, Tanjung Tiram, beliau menekankan perlunya mata pelajaran sejarah wilayah Batu Bara dan aksara Melayu (aksara Jawi) dimasukkan sebagai Muatan Lokal (Mulok) dalam pendidikan dasar. Sabtu (27/12/2025.
SEJARAH DAN AKSARA SEBAGAI PONDASI JATI DIRI
Prof. OK Saidin, yang juga menjabat sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) dan anggota Komisi Banding Merek periode 2024-2027, menjelaskan bahwa kedua mata pelajaran tersebut menjadi kunci bagi generasi muda untuk mengenal dan menghayati akar budaya mereka sebagai bagian dari masyarakat Melayu.
“Melayu adalah wangsa yang besar, dan hampir tidak ada wangsa maupun negara besar di dunia yang tidak memiliki aksara sendiri. China, Korea, Jepang, Arab, Soviet, India, Thailand, Roma, Latin – semuanya punya aksara khas,” ujarnya.
Beliau juga mengungkapkan keunikan aksara Melayu yang menggunakan aksara Arab namun dengan sistem penulisan yang berbeda. “Aksara Melayu memang menggunakan aksara Arab, tapi orang Arab sendiri tak bisa membacanya,” terangnya sambil sedikit tertawa.
Secara sejarah, wilayah Batu Bara pernah menjadi bagian dari Kesultanan Siak sebagai wilayah Melayu, dengan Kedatukan Tanah Datar sebagai salah satu dari sejumlah kedatukan yang ada, antara lain Kedatukan Lima Puluh, Kedatukan Bogak/Suku Dua, Kedatukan Lima Laras/Nibung Hangus, dan Kedatukan Pagurawan. Menurut Prof. OK Saidin, Melayu bukan hanya sebatas etnik, melainkan juga resam dan cara hidup. “Ciri utama untuk disebut Melayu adalah setiap warga atau komunitas yang dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Melayu, menjalankan adat istiadat Melayu, dan menganut agama Islam,” jelasnya.
Karakter Melayu yang terbuka dan adaptif juga menjadi sorotan beliau. “Melayu mudah bergaul, menghargai kebaikan, dan mendukung kebersamaan, termasuk terhadap pemerintahan. Oleh karena itu, saya mengajak Kedatukan Tanah Datar untuk mendukung program Pemerintah Kabupaten Batu Bara dalam membangun daerah,” pungkasnya.
![]() |
| BUPATI: KEDATUKAN HARUS SOLID, JANGAN TERPECah-Pecah |
Hadir sebagai tamu kehormatan, Bupati Kabupaten Batu Bara H. Baharuddin Siagian SH, M. Si., menyampaikan harapan agar Kedatukan Tanah Datar di bawah kepemimpinan Wan Muhammad Nur dapat menjalankan amanahnya dengan baik sebagai penjaga adat istiadat.
“Jangan jual murah Kedatukan. Yang paling penting, jangan terjadi lagi kedatukan tandingan seperti Kedatukan Satu atau Kedatukan Dua. Kedatukan dan zurriyatnya harus solid dan tidak boleh terpecah-pecah,” pesannya tegas.
Bupati juga menguatkan pandangan bahwa Melayu adalah sebuah bangsa, bukan sekadar etnik. “Jangan kecilkan Melayu yang sudah besar. Saya memang bernama Siagian, tapi lahir dan diasuh di Tanah Melayu Batu Bara, berbahasa Melayu sehari-hari, dan tidak dibesarkan dalam tradisi adat Batak,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Bupati mengumumkan rencana renovasi Istana Niat Lima Laras tahun depan, dengan catatan pihak keluarga setuju untuk menyerahkan istana kepada Pemkab Batu Bara. “Kita akan menyediakan anggaran untuk renovasi, namun harus melalui musyawarah dan persetujuan keluarga agar prosesnya berjalan lancar,” ucapnya.
Istana Niat Lima Laras sendiri merupakan peninggalan sejarah masyarakat Melayu pesisir yang sudah ada lebih dari 100 tahun, didirikan oleh Datuk Muhammad Yuda dan pernah menjadi pusat kekuasaan politik, sosial, dan ekonomi kerajaan Lima Laras.
PENOBATAN MELALUI MUSYAWARAH YANG MENGIKAT
Penobatan Wan Muhammad Nur SE sebagai Pemangku Adat Kedatukan Tanah Datar tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui proses musyawarah yang mendalam dengan para zurriyat. Dua kali musyawarah telah dilakukan, yaitu pada 12 Oktober 2025 di Medan dan 26 Oktober 2025 di Simpang Tiga, Kabupaten Batu Bara.
Hasil musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membentuk kembali Kedatukan Tanah Datar sebagai pewaris adat Melayu yang telah lama ditinggalkan. Zurriyat juga sepakat menunjuk Wan Muhammad Nur untuk memimpin kedatukan dan menyandang gelar Datuk Tanah Datar.
Dalam sambutan penerimaan jabatan, Wan Muhammad Nur menyampaikan komitmennya untuk menjaga kelestarian budaya sambil juga mendukung pembangunan daerah. “Saya akan berusaha menjembatani nilai tradisional dengan perkembangan zaman agar masyarakat Kedatukan Tanah Datar dapat meraih kemajuan tanpa meninggalkan akar budaya,” ujarnya.
Acara yang dihadiri oleh jajaran pemerintah, tokoh adat dari berbagai kedatukan di Batu Bara, serta tokoh masyarakat ini diakhiri dengan doa bersama dan foto bersama, sebagai bentuk harapan agar kedatukan dapat berkontribusi positif dalam mewujudkan “Era Batu Bara Bahagia” yang makmur dan penuh keharmonisan.
(Khang's)


