BADAR.CO.ID

Prioritaskan Keselamatan: Khang Akhyar (GarHi) Desak Evaluasi Standar Pelayaran Rute Tanjung Tiram-Pulau Pandang

Badar.co.id

Foto: Dugaan Pelanggaran Keselamatan Kapal Tanjung Tiram-Pulau Pandang: minimnya alat keselamatan berupa pelampung.


Batu Bara – Ketua Garuda Hijau Indonesia Kabupaten Batubara (GarHi), Khang Akhyar, melontarkan kritik pedas terkait dugaan pelanggaran standar keselamatan pelayaran yang terjadi pada kapal penumpang yang melayani rute dari Pelabuhan Tanjung Tiram menuju Pulau Pandang dan Pulau Salah Nama. Khang Akhyar, yang dikenal vokal dalam isu-isu lingkungan dan keselamatan publik, mengungkapkan kekhawatirannya yang mendalam setelah menerima laporan mengenai kondisi kapal yang beroperasi dengan kelebihan kapasitas penumpang dan minimnya alat keselamatan berupa pelampung.
 
"Ini bukan sekadar masalah kecil. Ini soal nyawa manusia! Bagaimana mungkin kapal wisata yang seharusnya menjamin keselamatan penumpang justru beroperasi dengan kondisi yang sangat membahayakan?" tegas Khang Akhyar dengan nada geram.
 
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah penumpang yang merasa resah, kapal yang umumnya digunakan untuk mengangkut wisatawan menuju keindahan Pulau Pandang itu terlihat penuh sesak, jauh melebihi kapasitas yang seharusnya. Kondisi ini memaksa sebagian penumpang, termasuk anak-anak dan lansia, untuk berdiri berdesakan di area dek luar kapal yang minim pengamanan. Lebih lanjut, para penumpang juga mengeluhkan minimnya ketersediaan pelampung yang tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang diangkut, bahkan beberapa saksi mata menyebut jumlahnya hanya belasan.
 
Salah seorang penumpang yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan pengalaman traumatisnya. "Saya naik kapal itu bersama keluarga. Begitu lihat kondisi kapal yang penuh sesak dan pelampung yang cuma sedikit, saya langsung lemas. Pikiran saya langsung ke hal-hal buruk. Kalau terjadi apa-apa di tengah laut, bagaimana nasib kami?" ujarnya dengan nada cemas pada Senin, 13 Oktober 2025.

Penumpang lain juga menyampaikan keluhan serupa, mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap pengelola kapal dan kurangnya pengawasan dari pihak terkait. "Kami ini bayar untuk menikmati wisata, bukan untuk mempertaruhkan nyawa. Seharusnya ada tindakan tegas dari pemerintah daerah agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi," ungkapnya dengan nada kesal.

Khang Akhyar menambahkan bahwa kondisi ini mencoreng citra pariwisata bahari Kabupaten Batu Bara, yang selama ini dikenal dengan keindahan alamnya. "Pulau Pandang itu surga kecil yang harus kita jaga. Tapi kalau akses menuju ke sana justru mengancam keselamatan wisatawan, ini sama saja dengan bunuh diri. Pemerintah daerah harus segera turun tangan dan menindak tegas para pelaku pelanggaran," tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Syahbandar maupun Dinas Perhubungan Kabupaten Batu Bara belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pelanggaran keselamatan yang terjadi. Masyarakat, khususnya para pelaku wisata dan calon wisatawan, berharap agar pihak terkait segera mengambil tindakan nyata untuk memastikan keselamatan para penumpang kapal dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Apakah wisata bahari Batu Bara akan terus dibayangi oleh ketakutan dan potensi bahaya? Ataukah pihak terkait akan segera bertindak untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan para wisatawan? Waktu yang akan menjawab.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama