![]() |
JAKARTA – Jelajah Masjid Nusantara (JMN 7) resmi diluncurkan sebagai bagian utama dari Program Masjid Nusantara 2026, dengan fokus pada penguatan peran masjid di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah tertinggal dan pelosok. Acara peluncuran yang digelar di PIC Creative Space, Jakarta, dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, penggerak dakwah, serta perwakilan pemerintah yang mendukung gerakan ini.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, H. Yandri Susanto, S.Pt., M.Pd., turut hadir dan memberikan dukungan penuh atas sinergi antara Program Masjid Nusantara dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT). Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong pembangunan berbasis komunitas desa melalui peran strategis masjid sebagai pusat aktivitas masyarakat.
Masjid Sebagai Pusat Ibadah, Edukasi, dan Pemberdayaan
CEO Masjid Nusantara, Pras Purworo, M.M., menegaskan bahwa Jelajah Masjid Nusantara merupakan gerakan berkelanjutan yang memiliki tujuan utama untuk menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, peran masjid perlu diperluas agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan umat.
Dalam kesempatan tersebut, Pras juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Pak Nur atas pendampingan dan bimbingan yang konsisten diberikan selama proses penyusunan dan pelaksanaan program. “Program Masjid Nusantara 2026 dapat berjalan dengan baik berkat arahan dan pendampingan Pak Nur. Beliau menjaga agar gerakan ini tetap fokus pada misi memakmurkan masjid sebagai pusat peradaban,” ujar Pras.
Melalui Program Masjid Nusantara 2026, pihaknya menetapkan tiga fokus utama yang akan ditingkatkan secara menyeluruh. Pertama, penguatan manajemen masjid agar dapat beroperasi dengan lebih efektif dan efisien. Kedua, pemberdayaan ekonomi berbasis masjid yang melibatkan masyarakat sekitar dalam berbagai kegiatan produktif. Ketiga, kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah, lembaga pendidikan, dan pihak swasta agar dampak program dapat berkelanjutan dan terukur dengan jelas.
Refleksi Mendalam: Semangat Mengajar yang Menginspirasi
Sebagai penutup acara peluncuran, Ir. Kusnadi Ikhwani, M.M., menyampaikan refleksi mendalam dengan mengutip pesan bijak dari KH Imam Zarkasyi: “Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar. Yang satu ini sama dengan seribu. Kalaupun yang satu ini pun tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena.”
Menurut Kusnadi, semangat tersebut telah terbukti melalui peran Masjid Darussalam Gontor yang tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga mampu mencetak ribuan ulama dan pemimpin yang kini tersebar di seluruh dunia. Ia menekankan bahwa peran masjid dalam pembangunan bangsa sangat strategis dan memiliki dampak yang luas.
“Masjid bukan sekadar tempat ibadah, tetapi pusat kaderisasi peradaban. Dari satu masjid yang dikelola dengan visi besar, lahir dampak yang mendunia,” tutup Kusnadi.
Dukungan dari Kemendes PDT dalam program ini diharapkan dapat memperluas jangkauan kegiatan hingga ke desa-desa terpencil, di mana masjid seringkali menjadi satu-satunya lembaga yang dapat menjadi pusat aktivitas masyarakat. Melalui pelatihan manajemen, program pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan infrastruktur pendukung, diharapkan masjid dapat menjadi motor penggerak kemajuan daerah.
Target Program: Dampak Berkelanjutan untuk Masyarakat
Program Masjid Nusantara 2026 juga menetapkan target untuk meningkatkan kapasitas puluhan ribu pengurus masjid di seluruh Indonesia, serta membantu pengembangan usaha mikro dan kecil yang dikelola oleh komunitas masjid. Kolaborasi dengan berbagai pihak juga diharapkan dapat membuka akses pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat sekitar masjid, terutama bagi kaum muda dan perempuan.
Dengan peluncuran Jelajah Masjid Nusantara 7 ini, Program Masjid Nusantara 2026 diharapkan semakin memperluas peran strategis masjid dalam membangun masyarakat yang berdaya, mandiri, dan berakhlak mulia. Gerakan ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi pembangunan berbasis nilai-nilai agama dan budaya yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia.
Sumber: Rilis Pers Masjid Nusantara

