BATU BARA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemberian makanan kepada peserta didik. Di balik setiap porsi makanan yang dibagikan terdapat rantai pasok pangan bernilai besar, mulai dari beras, telur, ayam, ikan, sayuran, buah-buahan hingga bahan pangan lainnya.
Di Kabupaten Batu Bara, skala program tersebut juga menarik untuk dihitung secara terbuka. Pertanyaannya sederhana, berapa sebenarnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), berapa kebutuhan bahan pangan setiap hari, dan seberapa besar peluang pasar bagi petani serta peternak lokal?
Penelusuran sejumlah sumber publik menunjukkan adanya angka yang cukup besar.
Pada 9 Maret 2026, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Batu Bara menyebut terdapat 60 SPPG di Kabupaten Batu Bara. Saat itu lima SPPG dihentikan sementara karena belum melengkapi Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS). Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan data awal program. Dalam bahan profil Program MBG Sumatera Utara 2025, Batu Bara tercatat baru memiliki 3 SPPG operasional, dengan estimasi penerima manfaat 133.073 orang.
Artinya, dalam perkembangannya jumlah dapur SPPG di Batu Bara meningkat sangat signifikan. Namun pertumbuhan jumlah dapur tersebut menghadirkan pertanyaan ekonomi yang tidak kalah penting:
Dari mana seluruh bahan pangan untuk puluhan SPPG tersebut diperoleh?
60 SPPG, Seberapa Besar Kebutuhannya?
Badan Gizi Nasional menyebut satu SPPG membutuhkan sekitar 200 kilogram beras atau bahan karbohidrat setara dalam satu kali proses memasak. BGN juga menjelaskan bahwa kebutuhan bahan pangan SPPG dapat menjadi penggerak ekonomi karena setiap dapur membutuhkan pasokan dalam jumlah besar dan berulang.
Sementara bahan proyeksi neraca pangan 2026 menggunakan asumsi kebutuhan satu SPPG sebagai berikut:
Beras: 200 kg per hari
Telur ayam: 200 kg pada jadwal penyajian
Daging ayam: 350 kg pada jadwal penyajian
Daging sapi: 150 kg pada jadwal penyajian
Asumsi penerima: sekitar 3.000 orang per SPPG
Beras disajikan 6 kali seminggu
Telur 2 kali seminggu
Ayam 2 kali seminggu
Daging sapi 3 kali sebulan.
Jika angka 60 SPPG di Batu Bara digunakan sebagai dasar simulasi, maka skalanya menjadi sangat besar.
Beras 60 SPPG × 200 kg = 12.000 kg beras per hari
Artinya, secara teoritis kebutuhan beras mencapai: 12 ton per hari.
Jika menggunakan asumsi enam hari penyajian dalam seminggu:
60 SPPG × 1,2 ton per minggu = 72 ton beras per minggu.
Dengan asumsi kebutuhan 4,8 ton per SPPG per bulan sebagaimana proyeksi BGN, maka:
60 × 4,8 ton = 288 ton beras per bulan.
Ini belum memperhitungkan perubahan jumlah penerima manfaat, menu, hari operasional, maupun kondisi aktual setiap SPPG.
Telur: Puluhan Ton Setiap Minggu
Berdasarkan asumsi BGN, satu SPPG membutuhkan sekitar 200 kg telur setiap kali jadwal penyajian telur, dengan frekuensi dua kali seminggu.
Maka:
60 × 200 kg = 12.000 kg telur setiap kali penyajian.
Jika telur disajikan dua kali seminggu: 12 ton × 2 = 24 ton telur per minggu.
Dengan demikian, dalam sebulan kebutuhan teoritisnya dapat mencapai sekitar:
96 ton telur per bulan, jika menggunakan empat minggu sebagai pendekatan sederhana.
Angka ini menunjukkan bahwa program MBG dapat menjadi pasar yang sangat besar bagi peternak ayam petelur.
Ayam: 42 Ton per Minggu
Untuk daging ayam, asumsi kebutuhan satu SPPG mencapai 350 kg setiap kali jadwal penyajian, dengan frekuensi dua kali seminggu.
Maka:
60 × 350 kg = 21.000 kg atau 21 ton ayam setiap kali penyajian.
Jika ayam masuk menu dua kali seminggu: 21 ton × 2 = 42 ton ayam per minggu.
Dalam pendekatan empat minggu: 168 ton ayam per bulan.
Besarnya kebutuhan ini membuka peluang bagi peternak ayam broiler di Batu Bara dan daerah sekitarnya apabila rantai pasok dapat dibangun secara langsung dan terukur.
Bagaimana dengan Daging Sapi?
Asumsi proyeksi BGN juga memasukkan daging sapi sebanyak 150 kg per SPPG, dengan frekuensi tiga kali sebulan. Jika 60 SPPG menggunakan asumsi tersebut:
60 × 150 kg = 9.000 kg atau 9 ton setiap penyajian.
Tiga kali dalam sebulan: 9 ton × 3 = 27 ton daging sapi per bulan.
Sekali lagi, angka ini merupakan simulasi berdasarkan parameter BGN, bukan klaim bahwa seluruh 60 SPPG Batu Bara saat ini membeli komoditas tersebut dalam jumlah yang sama.
Kalau Dijumlahkan, Berapa Besar Pasokan?
Dengan asumsi 60 SPPG beroperasi penuh berdasarkan parameter BGN, gambaran kebutuhan dapat disederhanakan sebagai berikut: Komoditas Kebutuhan 60 SPPG
Beras ±12 ton/hari atau sama dengan Beras ±72 ton/minggu serta setara Beras ±288 ton/bulan.
Telur ±12 ton/setiap penyajian, Telur ±24 ton/minggu.
Ayam ±21 ton/setiap penyajian, Ayam ±42 ton/minggu.
Daging sapi ±9 ton/setiap penyajian, Daging sapi ±27 ton/bulan.
Catatan: angka bulanan di atas merupakan hasil simulasi berdasarkan asumsi frekuensi penyajian BGN, bukan data pembelian aktual seluruh SPPG Batu Bara.
Lalu, Berapa Banyak Sekolah di Batu Bara?
Data BPS untuk tahun ajaran 2025/2026 mencatat 247 SD, terdiri atas 226 SD negeri dan 21 SD swasta.
Untuk tingkat SMP, BPS mencatat 62 sekolah, terdiri dari 30 negeri dan 32 swasta.
Sementara untuk SMA terdapat 33 sekolah, sedangkan SMK terdapat 25 sekolah.
Dengan demikian, apabila SD, SMP, SMA dan SMK dijumlahkan: 247 + 62 + 33 + 25 = 367 satuan pendidikan.
Angka ini dapat digunakan sebagai gambaran jumlah satuan pendidikan formal pada jenjang tersebut, tetapi tidak boleh langsung disamakan dengan jumlah sekolah yang saat ini dilayani MBG, karena cakupan MBG aktual setiap SPPG dapat berbeda.
Rata-rata Beban Jika 60 SPPG Dibandingkan dengan 367 Sekolah
Secara matematis, 60 SPPG untuk 367 sekolah menghasilkan rasio: 367 ÷ 60 = sekitar 6,1 sekolah per SPPG.
Namun pembagian tersebut hanyalah rata-rata matematis.
Dalam praktiknya, satu SPPG dapat melayani beberapa sekolah dengan jumlah peserta didik berbeda.
Sebagai contoh, SPPG Polres Batu Bara yang dipantau Polres pada November 2025 pernah melayani 2.029 siswa dari lima sekolah. Pada Desember 2025, SPPG yang sama dilaporkan melayani 2.656 siswa dari tujuh sekolah.
Data tersebut menunjukkan bahwa beban satu SPPG memang dapat mencapai ribuan penerima manfaat. Jika 3.000 Penerima per SPPG. Parameter BGN menggunakan asumsi sekitar 3.000 penerima manfaat untuk satu SPPG.
Jika seluruh 60 SPPG Batu Bara beroperasi pada kapasitas tersebut: 60 × 3.000 = 180.000 penerima manfaat.
Ini merupakan angka kapasitas teoritis, bukan berarti 180.000 siswa Batu Bara saat ini menerima MBG.
Justru di sinilah pertanyaan investigatifnya.
Bahan profil MBG Sumatera Utara 2025 memperkirakan jumlah siswa Batu Bara sebanyak 112.729 orang.
Jika angka tersebut dibandingkan dengan kapasitas teoritis 60 SPPG × 3.000 penerima, maka terdapat perbedaan yang cukup besar.
Kapasitas teoritis 60 SPPG: 180.000 penerima.
Estimasi siswa: 112.729 orang.
Selisihnya: 67.271 penerima.
Tetapi selisih ini tidak otomatis berarti ada kelebihan SPPG, karena program MBG juga memiliki kelompok penerima manfaat lain dan jumlah penerima aktual setiap SPPG tidak harus mencapai 3.000 orang.
Pertanyaan Penting untuk Pemkab dan BGN Batu Bara
Dari data tersebut, ada sejumlah pertanyaan yang layak diajukan secara terbuka kepada pihak terkait.
Pertama, dari 60 SPPG yang disebut berada di Batu Bara, berapa yang benar-benar aktif beroperasi saat ini?
Kedua, berapa jumlah penerima manfaat aktual setiap SPPG?
Ketiga, berapa total siswa yang menerima MBG setiap hari?
Keempat, berapa ton beras yang dibeli seluruh SPPG Batu Bara setiap hari?
Kelima, berapa ton telur yang dibeli setiap minggu?
Keenam, berapa ton ayam yang dibeli setiap minggu?
Ketujuh, berapa kebutuhan buah-buahan seperti pisang, semangka, jeruk dan buah lainnya?
Kedelapan, berapa persen kebutuhan tersebut berasal dari petani dan peternak Kabupaten Batu Bara?
Kesembilan, berapa persen yang berasal dari daerah lain seperti Berastagi dan sentra produksi lainnya?
Kesepuluh, berapa nilai rupiah perputaran belanja bahan pangan MBG yang benar-benar masuk ke petani, peternak, nelayan, koperasi dan UMKM lokal?
Pertanyaan terakhir justru menjadi sangat penting dalam konteks pembangunan ekonomi daerah. Jangan Sampai Petani Batu Bara Hanya Menjadi Penonton Program MBG menciptakan kebutuhan pangan yang sifatnya rutin.
Berbeda dengan pasar biasa yang sangat tergantung pada fluktuasi permintaan, SPPG membutuhkan bahan pangan secara berkelanjutan selama program berjalan.
Artinya, program ini seharusnya dapat menjadi pasar kelembagaan bagi petani dan peternak lokal. Beras dapat berasal dari petani lokal. Telur dapat berasal dari peternak ayam petelur. Ayam dapat berasal dari peternak broiler. Ikan dapat berasal dari nelayan dan pembudidaya. Sayuran dapat berasal dari petani hortikultura. Pisang, semangka dan buah lainnya dapat berasal dari kebun masyarakat.
Sementara komoditas yang produksinya belum mencukupi dapat didatangkan dari daerah sentra produksi lain, termasuk jeruk dari kawasan Berastagi. Pola seperti ini akan membuat program MBG tidak berhenti sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi mesin perputaran ekonomi daerah.
Refleksi HUT ke-81 RI
Momentum 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya menjadi momentum untuk melihat persoalan ini secara lebih luas. Kemerdekaan bukan hanya soal terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus berarti adanya kesempatan yang adil bagi masyarakat untuk mendapatkan manfaat dari pembangunan.
Jika puluhan SPPG membutuhkan ratusan ton bahan pangan setiap bulan, maka muncul pertanyaan sederhana:
Apakah petani Batu Bara sudah mendapatkan bagian yang layak dari pasar sebesar itu?
Jangan sampai anak-anak Batu Bara menikmati makanan bergizi dari program MBG, sementara petani yang menghasilkan beras, sayur dan buah; peternak yang menghasilkan telur dan ayam; serta nelayan yang menghasilkan ikan justru tidak menjadi bagian utama dari rantai pasok tersebut. Pemerintah daerah, BGN, pengelola SPPG, koperasi dan kelompok tani sebenarnya memiliki peluang untuk membangun sistem yang lebih terukur.
Data kebutuhan setiap SPPG dapat dibuka.
Data pemasok dapat dipetakan.
Produksi petani dapat dihitung.
Kebutuhan sekolah dapat disesuaikan.
Kemudian dibuat kontrak pasokan yang transparan antara kelompok produsen dengan SPPG. Dengan cara tersebut, program MBG tidak hanya menghasilkan makanan bergizi di sekolah, tetapi juga menciptakan kepastian pasar bagi masyarakat desa.
Kesimpulan Investigasi
Data publik yang berhasil ditelusuri menunjukkan bahwa skala MBG di Batu Bara bukan perkara kecil.
60 SPPG yang disebut BGN pada Maret 2026, apabila disimulasikan menggunakan parameter kebutuhan BGN, berpotensi membutuhkan sekitar 12 ton beras per hari, 24 ton telur per minggu dan 42 ton ayam per minggu, belum termasuk ikan, sayuran, buah-buahan, tahu, tempe dan komoditas lainnya.
Sementara BPS mencatat sedikitnya 367 satuan pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK pada tahun ajaran 2025/2026. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa MBG bukan hanya persoalan dapur dan makanan. Ini adalah pasar pangan yang sangat besar.
Pertanyaan publik yang patut terus dikawal adalah:
Berapa nilai rupiah belanja pangan MBG di Kabupaten Batu Bara setiap hari, dan berapa persen uang tersebut benar-benar masuk ke kantong petani, peternak, nelayan dan pelaku UMKM Batu Bara?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah MBG di Batu Bara hanya sukses dari sisi jumlah makanan yang dibagikan, atau juga berhasil menjadi program yang menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.
Catatan metodologi: Angka 60 SPPG berasal dari pernyataan Koordinator Wilayah BGN Batu Bara yang diberitakan pada 9 Maret 2026. Parameter kebutuhan pangan per SPPG berasal dari materi BGN/Badan Pangan Nasional. Karena belum ditemukan publikasi resmi yang lebih baru dan lengkap mengenai jumlah SPPG aktif, penerima manfaat aktual dan volume pembelian seluruh SPPG Batu Bara per Agustus 2026, angka kebutuhan dalam artikel ini diberi status simulasi, bukan data pembelian aktual.

